Selasa, 13 Juli 2021

MENGAJAR YANG MENYENANGKAN

Mengajar adalah membuat orang lain menjadi belajar. Pengertian ini semata-mata lebih merupakan kesimpulan pribadi, berdasarkan pengalaman melakukan aktivitas keseharian sebagai pengajar privat maupun kelompok untuk bidang musik. Berbagai problema mengakselerasi subyek didik untuk menjadi kreator-kreator musik, membawa kesimpulan saya terhadap pengertian mengajar tersebut.

Berbagai masalah itu terutama berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan bagaimana rumusan tujuan akhir serta tujuan-tujuan antara, bagaimana tujuan-tujuan belajar bisa tercapai dengan efektif dan efisien, bagaimana subyek didik mampu merumuskan dan mencapai sendiri tujuan-tujuan pada levelmyang lebih tinggi.

Tujuan adalah masalah utama dalam proses belajar mengajar. Baru runtutan berikutnya adalah bagaimana tujuan-tujuan itu dicapai dengan sukses, sesuai indikator-indikator pencapaiannya. Konsekuensi dari hal ini adalah, sebuah rangkaian proses terbuka yang mengacu bagaimana tujuan itu tercapai.

BAKAT ATAU KEGEMARAN?

Sudah sekian lama, banyak orang terbukti bersikukuh pada pendapat bahwa kemahiran seseorang pada bidang tertentu, semisal kemahiran dibidang kesenian, olah raga, bahkan science, hanya dapat diperoleh seseorang karena yang bersangkutan memiliki bakat.

Milenial Vs Jadul

Asal muasalnya saya menulis ini bukan karena saya tidak pro dengan apa yang jadi bahan utama penulisan ini. Sebetulnya saya bingung harus dimulai darimana untuk mengatakan secara tulisan ini, hehe... Awalnya dimulai dari membaca postingan-postingan grup wa tentang resep-resep untuk hidup sehat dengan memaksimalkan apa yang ada disekitar kita, contoh bahan-bahan alami seperti tanaman kelor, daun salam, krokot, sere, jahe, kunir dan lain-lain. Saya selalu mengikuti setiap postingan yang ada di grup itu dan semakin tertarik untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalkan dengan membuat sayur kelor, dan yang paling sering ketika sakit selalu menggunakan kunir madu. Sampai suatu ketika saya tertegun ketika membaca kata-kata beliau " Semua mentahan sebenarnya sapu jagat, tinggal ditertibkan peberiannya saja, bismillah sakit atau tidak sakit juga bisa, sakit ciptaan ALLAH, kita berikan perlawanannya juga yg buatan ALLAH, krn yakin ALLAH tdk mungkin membebani hambanya di luar kemampuan, artinya harus yakin ALLAH sudah menyiapkan solusinya, yaitu yg diciptakan ALLAH" " KALAU ADA PERTANYAAN harus yang mana mentahannya?silahkan dimulai dari yg disukai dulu, buatlah tanpa dimasak, diatas api, tentu mentahan ini yg dari tumbuhan ya, mulai dari INFUSA, resiko detox, monggo dinikmati diterima, praktisnya ya bentuk kelora itu, buat sendiri apa sama, sama haslilnya asalkan RUTIN TIAP HARI, kalau tidak rutin? tdk akan ada hasil yg nyata, jgn lupa makanan tdk sehat WAJIB DI STOP " Kata-kata itu yang akhirnya membuat saya pingin menulis mencurahkan isi hati saya. Dan Akhirnya saya berpikir betapa indahnya dan sehatnya kita semua jika semua orang percaya dan mulai hidup dengan cara mengkonsumsi tanaman/sayuran sekitar untuk memperkuat imun dari awal, apalagi menerapkan mentahan2 seperti Beliau katakan. Maka virus yang lagi beredar saat ini gak mungkin akan sampai sebooming ini, terlebih lagi obat-obat kimia tidak akan laku/harganya akan menjadi murah. Dan bisa jadi gantian harga sayuran yang mahal karena diserbu semua orang dan petanipun menjadi makmur. hehe.. Dan yang membuat saya heran, kok orang lebih percaya sama obat kimia daripada bahan alami ciptaan Allah yang bebas bisa diambil kapanpun disekitar kita. Saya akan mencontohkan satu hal yang membuat saya heran lagi, Sekarang lagi booming tanaman hias, harga tanaman kecil 1 lembar ada yang ratusan bahkan jutaan, ada yang rela menukar mobil hanya demi tanaman hias yang hanya bagus untuk dilihat saja. OMG.. Kenapa kok tidak tanaman yang banyak manfaatnya untuk kesehatan terlebih bisa untuk imun tubuh di boomingkan dan dibeli dengan harga mahal. heemm.. ini yang akhirnya membuat saya bertanya-tanya apa dulu (jadul) sebelum saya ada, juga sama seperti apa yang ada saat ini (milenial). Bukan berarti saya kontra dengan obat kimia dan kontra terhadap tanaman hias, saya cuman heran aja kalau ada yang murah dan ada disekitar kita kenapa harus beli yang mahal dan susah dicari. Sementara mungkin ini bagian dari uneg-uneg saya melihat kondisi saat ini.

Senin, 27 Februari 2017

SENI TRADISI LEBIH BUTUH KONSERVATORI DARIPADA KONSERVASI

Akhir minggu lalu, dalam suatu kesempatan, saya menemani istri tercinta untuk mendampingi murid-murid ekstra kurikuler binaannya untuk mengikuti sebuah ajang seleksi FLS2N tingkat kecamatan. FLS2N adalah sebuah ajang kompetisi seni antar siswa mulai dari level tingkat sekolah berjenjang menujuntingkat nasional. Kebetulan istri saya adalah salah satu pembina ekstra kurikuler seni tari, yang sekolahnya lolos mengikuti seleksi ditingkat kecamatan.

Terlepas dari berbagai problema mendasar mulai petunjuk pelaksanaan lomba yang tidak sampai ketangan pelatih sampai penyelenggaraan seleksi yang sangat terkesan "asal terselenggara", sampai masalah pembiayaan keikutsertaan peserta yang tidak jelas menjadi beban siapa, sungguh sangat layak diberikan apresiasi adalah ,semangat keterlibatan siswa yang sungguh-sungguh besar, ssbagaimana layaknya anak-anak yang tahunya hanya ingin melakukan terbaik sebisa mungkin.

Sepenuhnya saya berkesempatan untuk mengamati proses seleksi seni tari tingkat Sekolah Dasar, pada posisi sebenar-benarnya sebagai penonton, tidak seperti pada ajang seleksi kegiatan serupa ditahunntahun sebelumnya yang biasanya saya bertugas sebagai team seleksi/juri, meski untuk tangkai lomba berbeda.

Posisi sebagai penonton, atau wong ndelok (Jawa), bener-bener memampukan saya sepenuhnya sebagai wong ndelok yang kendele alok (beraninya berkomentar). Meskipun saat itu bentuk alok atau komentar saya masih berkejaran dalam pikiran saya, dan baru akan saya tuangkan dalam komentar digital maya kali ini.

Alok ini distimulasi oleh kemampuan para peserta yang sedang menjadi penonton untuk menirukan menarikan karya tari yang sedang ditampilkan oleh peserta lain yang sedang tampil. Saya mengamati benar, peserta yang tidak tampil hafal gerakan gerakan tari yang sedang dibawakan oleh peserta yang sedang tampil. Kesimpulan saya, seluruh siswa ini memang diajari tari yang sama meskipun berasal dari sekolah yang berbeda bahkan dari guru yang berbeda.

Apakah itu indikasi bahwa dunia pendidikan tari di sekolah memang menjalani keseragaman? Kemungkinan besar iya. Obrolan dengan beberapa guru/pengajar tari yang terlibat dalam ekstra kurikuler seni tari sekolah dasar 100% mengatakan iya. Para pengajar tari ini seakan terbebani untuk mengajarkan tari-tari yang dilabeli dengan tari tradisi. Meskipun faktanya adalah, banyak karya tari yang diajarkan itu berupa bentuk karya baru para "senior", yang kebetulan "hanya punya dukungan" untuk dilabeli tari tradisi.

Salah Kaprah Labeling TRADISI
Pada saat para pengajar seni tari beranggapan bahwa tari tradisional malangan adalah: Beskalan, Topeng Bapang, Grebeg Sabrang, dan mereka (para guru tari) merasa harus bertanggung jawab untuk menjaga tradisi, maka harus mengajarkan itu semua, apakah itu salah? Tentu saja jawabnya tidak, karena memang dalam wacana yang menaunginya harus begitu. Wacana-wacana yang senantiasa dikembangkan dalam pengembangan seni tari tradional adalah, bahwa menjaga lokalitas harus dilakukan dengan mengajarkan bentuk-bentuk lama yang sudah ada. Mengajarkan tari tradisi hanya dilakukan dengan melatihkan ulang bemtuk tari yang sudah dibuat oleh para pendahulu. Bahkan dilatihkan begitu saja, apa adanya. Alasan yang dibuat kuat adalah, pelestarian. Konsepsi pelestarian yang digunakan adalah menjaga utuh, dan tetap utuh.

Upaya besar-besaran menjaga tradisi akhirnya hanya lebih mengarah pada monumentasi seni tradisi. Bahwa monumentasi sebenarnya menjadi upaya yang mematikan tidak disadari oleh pelaku, karena besarnya wacana pelestarian pada pengertian diatas. Mindset bahwa pelestarian sebenarnya telah berhenti pada menjaga keutuhan bentuk sangat kuat pada hampir seluruh pelaku seni tradisi, termasuk para pengajar sebagai pemegang estafet antar generasi.

Kalau boleh meminjam pemahaman upaya konservasi, yang pada esensinya adalah menjaga untuk tetap hidup, jangan-jangan upaya pelestarian seni tradisi (tari tradisi) malah hanya berhenti pada menjaga untuk tetap berbentuk. Kesibukan menjaga bentuk inilah yang berakibat, jarang sekali munculnya bentuk-bentuk baru pada seni tari tradisi malangan. Apakah munculnya seni tari baru tradisi malangan harus dari maestro tari yang sudah dinobatkan? Adakah tata aturan seperti itu dalam putaran pelaku tari tradisi malangan?

Tidak adakah pekerja-pekerja muda seni tari malangan yang bekerja keras mengejar kemaestroan? Ataukah para pelaku muda tari malangan sudah merasa cukup menunggu para maestro yang telah dinobatkan menurunkan "sabda" barunya? Atau, tidakkah ada keberanian para pelaku muda tari malangan berkompetisi pada kreasi, dalam rangka memperebutkan posisi kemaestroan tari malangan?

Peran Lembaga Edukasi
Tidak ada yang punya alasan pantas untuk menolak pentingnya lembaga edukasi untuk menyiapkan generasi. Termasuk dalam upaya penyiapan generasi tari. Lembaga edukasi yang dimaksud bukan hanya lembaga edukasi formal, tetapi juga lembaga-lembaga edukasi non formal yang ada di masyarakat.

Akan tetapi akan lebih mulianya, apabila lembaga edukasi formal, terutama yang dibangun oleh negara, yang penyelenggaraannya melibatkan anggaran yang melibatkan uang rakyat, benar-benar memegang peran utama terutama dalam merubah mindset seluruh masyarakat yang terkena dampak penyelenggaraan edukasinya, menjadi masyarakat yang konstruktif, menjadi masyarakat yang memiliki kompetensi sepenuhnya untuk menjadi kreator seni, kreator tradisi, kreator budaya. Bukan hanya menjadi masyarakat pelaksana instruksi, masyarakat plagiasi, masyarakat pelaku monumentasi tradisi.

Mampukah?
Hanya lembaga edukasi itu sendiri yang mau....

Selasa, 07 Februari 2017

MUSIKALISASI PUISI (upaya dari sastrawan tak percaya diri?)

Trend musikalisasi puisi terjadi pada sekitar 10 tahunan terakhir. Kegiatan ini sempat "booming" mulai dari bentuk-bentuk lomba untuk anak-anak/pelajar, sampai bentuk launching karya oleh para penulis puisi itu sendiri.

Interpretasi sederhana kata musikalisasi puisi adalah "upaya memusikkan puisi". Puisi sebagai karya sastra diubah sedemikian rupa sehingga yang hadir adalah bentuk atau sajian musik, yang mestinya leburlah bentuk awalnya sebagai karya verbal, dan lahir utuh dalam bentuk baru sebagai karya musik.

Demikiankah musikalisasi puisi terjadi? Mungkin iya atau bahkan tidak sama sekali. Di negeri ini, dalam sejarah perkembangam industri musik, sudah banyak dihasilkan lagu dengan syair diambil dari karya puisi. Sebutlah nama Ebiet G. Ade, sebutlah kelompok band Godbless, Bimbo. Nama-nama yang sangat terkenal pada masanya, bahkan masih bergaung sampai sekarang, karya-karya lagu mereka selalu mengambil syair dari karya puisi, baik yang mereka susun sendiri, maupun karya puisi yang dibuat oleh orang lain.

Apakah mereka menyebutnya sebagai musikalisasi puisi? Jawabnya adalah TIDAK. Belum pernah ada statemen yang terekam bahwa mereka menyebut karya musiknya sebagai musikalisasi puisi. Mumgkin, mereka sadar benar, bahwa mereka hanya menyusun lagu dari karya puisi.

Nah rupanya disinilah, generasi berikutnya, yang sepertinya justru diawali oleh para pembuat puisi itu sendiri, bahwa apa yang mereka lakukan dengan memberi melodi pada syair puisinya, memberikan sentuhan instrumentasi untuk mengiringi (seringkali diberi alasan umtuk memperkuat suasana) syair yang sudah melodik itu dengan istilah musikalisasi.

Ada hal penting yang para pelaku musikalisasi puisi ini lupakan adalah: bahwa memberi nada pada syair puisi sebenarnya hanya pada tahapan membuat melodi. Melodi adalah deret frekuensi bunyi yang dibunyikan secara bergantian dengan berbagai variasi durasi. Mungkin hal yang dilupakan oleh pelaku pembacaan puisi adalah, bahwa pada saat mereka memberikan intonasi dengan jelas dari rangkaian suku kata, kata, serta kalimat, sebenarnya mereka sudah membuat melodi.

Dalam strukturasi lagu, melodi adalah salah satu unsur pembentuk. Unsur pembentuk lagu adalah; melodi, harmoni, dan ritme. Melodi adalah unsur tunggal, selalu "berbentuk" horisontal. Unsur yang secara otomatis dibawa melodi adalah tempo, tempo inilah yang menginfluen ritme. Harmoni muncul kapan dan dimana? Harmoni dalam konstruksi musik adalah bilamana dua frekuensi yang berbeda, atau frekuensi yang sama dari timbre yang berbeda muncul/dibunyikan secara bersamaan. Dua melodi yang dibunyikan bersama akan memunculkan harmoni.

Musikalisasi Puisi (Indonesia)
Beberapa syair puisi, ada yang sangat memiliki kekuatan untuk disampaikan secara auditori, disamping tidak sedikit puisi yang justru kekuatannya pada saat "dibaca dalam hati". Upaya menghadirkan puisi secara auditori dengan menjadikannya sebagai syair lagu yang sudah terjadi ratusan tahun. Dalam sejarah perkembangan musik, tidak pernah dilihat sebagai upaya yang dinamakan musikalisasi. Sinergi ini sudah terjadi dengan indahnya, seiring perkembangan musik yang dicatat menjadi sejarah. Bahkan mendasarkan komposisi opera pada karya novel juga tidak pernah disebut sebagai musikalisasi novel.

Apalagi kalau ternyata upaya yang disebut musikalisasi puisi itu hanya terbatas memasukkan syair puisi pada melodi, dan dengan menambahkan harmoni tambahan untuk "mengiringi" melodi, ini hanya upaya menyusun lagu. Tidak mewakili keseluruhan dari pengertian musik.
Dan yang telah terjadi adalah, aspek musik yang masuk dalam musikalisasi puisi ini sesungguhnya sangat jauh dari sentuhan musikal. Sangat bisa dipahami, karena kebanyakan musikalisasi puisi dilakukan oleh kalangan puisi, bukan kalangan musisi.

Hal di atas bia jadi indikasi, bahwa pada periode gencarnya gerakan musikalisasi puisi, sedang terjadi "tidak ada sinergi antara musisi dan sastrawan puisi". Atau memang, periode itu adalah periode "ngabehi". Ngabehi dari kata kabeh. Dari bahasa Jawa yang artinya "semua". Ngabehi bisa diartikan me-semua-i. Suatu sikap dan perilaku seakan-akan seseorang mampu melakukan semua hal.

Apakah benar demikian?
Hanya pelaku dan Tuhan yang tahu.....

Minggu, 22 Januari 2017

UCAPAN TERIMA KASIH SAYA

Blog ini tiba-tiba disodorkan ke saya dan dengan "kesepakatan memaksa", yang mana saya harus mengisinya dengan tulisan-tulisan saya, yang terkait dengan berbagai hal yang sudah maupun yang ingin saya lakukan sejalan dengan "hoby" dan kekaryaan saya sebagai pekerja edukasi musik, mulai mengajar berpaduansuara sampai wilayah musikal seni tradisi karawitan dan pedhalangan. (Yang sebenarnya baru dua tahun terakhir saya kembali saya terjuni dengan serius)

Calon Ibu dari anak-anak saya, calon nenek dari cucu-cucu saya, calon nenek buyut dari cicit-cicit saya, calon peletak generasi Brotoseno yang bernama Dian Febrianti, meminta dengan sungguh sungguh kepada saya untuk tidak berhenti menulis, mengisi blog ini sebagai tanda cinta saya kepadanya. Tulisan-tulisan yang akan jadi peninggalan kepada generasi Brotoseno yang sedang kami bangun berdua. Dia "bilang", seluruh generasi brotoseno harus tahu semua hal yang sudah dan juga yang belum saya lakukan, terutama yang bersumber dari pikiran-pikiran saya. (Kegilaan seorang istri yang sungguh-sungguh membuat saya makin bangga padanya).

Sampai tulisan ini saya buat, saya bener-bener belum tahu harus "ngapain" dengan blog ini. Saat ini saya hanya berjanji pada diri sendiri, untuk membalas kasih sayang Istri Masa Depan Saya, dengan selalu mengjadirkan tulisan-tulisan baru, tidak sekedar untuk memggugurkan kewajiban dan janji, tetapi lebih sebagai ungkapan syukurnsaya kehadirat Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas anugerahNYA yang begitu luar biasa, seorang Dian Febrianti, seorang istri yang ternyata jauh lebih sempurna dari ekspektasi saya terhadap istri yang akan mendampingi saya, sampai setelah saya meninggal kelak.

Untuk Cello, buah hati pertama kami:
Mas, bapakmu dan ibumu ini, saat ini terikat janji suci untuk memulai hidup baru, dengam satu keinginan memuliakanmu dan adik-adikmu, memuliakan seluruh keturunanmu dan seluruh keturunan adik-adikmu, dan semakin mulia dimata siapapun....

Cello anakku,.... jadilah lebih besar dari seluruh harapan bapak dan ibumu.....


-anang brotoseno- 


MENYOROT JUDUL MATA PELAJARAN SENI DAN BUDAYA

Tadi malam, saya bertemu dengan Pak Joko Supit dirumah beliau di daerah Sawojajar, Malang. Saya diajak Mas Nanang Pramudya, seorang dalang, ketua paguyuban dalang dan karawitan dari Sanggar Padaka Nusa, Paguyuban Dalang dan Karawitan Nunggal Rasa, sebuah paguyuban karawitan yang sekitar dua tahun terakhir saya bergabung.

Sekitar satu setengah tahun lalu bertemu dengan Pak Joko ntuk pertama kalinya pada sebuah acara mantenan. Pak Joko bertugas sebagai MC manten boso jowo, dan saya dapat bagian job sebagai pengrawit. Setelah itu saya tidak pernah bertemu sama sekali.

Pertemuan kedua kami terjadi tanggal 12 Januari 2017, pada sebuah kegiatan, saya masih selaku pengrawit dari kelompok karawitan Nunggal Rasa yang berada dalam naungan Padaka Nusa, yang mengiringi Pak Joko ndalang, sebagai dalang ruwatan, untuk sebuah acara wayang ruwatan untuk sebuah keluarga, di wilayah kecamatan Jabung, Kab. Malang.

Tidak banyak yang kami bicarakan dalam dua pertemuan itu, hanya serangkaian tegur sapa sebagai sesama pelaku tradisi kejawaan, dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pada kedua pertemuan itu kami hanya melakukan semacam komunikasi musikal. Karena disitulah wilayah job kami bersinergi.

Pertemuan ketiga semalam, sebenarnya juga peristiwa tak sengaja. Setelah berproses bersama generasi muda yang tergabung sebagai anak didik binaan Padaka Nusa, Mas Nanang menghubungi saya untuk menungu saya di DKM, membicarakan persiapan acara Rebo Wekasan tanggal 25 Januari 2017. Sebuah acara gelaran wayang kulit, yang didesign oleh Padaka Nusa sebagai salah satu rangkaian bentuk pengembangan seni tradisi khususnya Pakeliran Wayang kulit. Saat ini memang Padaka Nusa sangat serius merealisasikan kepeduliannya terhadap Pedalangan dan Karawitan dengan upayanya revitalisasi seni tradisi ini.

Pertemuan bertiga dengan Pak Joko gayeng. Saya dibelikan sebungkus rokok oleh Mas Nanang, dan Keluarga Pak Joko menyuguhkan kopi buat kami. Berbagai pembicaraan tentang seni tradisi, ngalor ngidul ngetan ngulon kami bahas, dan serasa tak tuntas. Mungkin karena terlalu bamyaknya masalah yang kami lihat dalam wacana pengembangan seni tradisi dan tradisi itu sendiri.

Namun diakhir-akhir pembicaraan, pada saat mulai menyinggung lembaga pendidikan tinggi, karena beliau juga seorang dosen di salah satu perguruan tinggi milik pemerintah di Malang, beliau mulai membicarakan penurunan kualitas input mahasiswa. Saya dan Pak Joko tidak membahas secara spesifik penurunan kualitas input itu pada sisi apa. Seakan kami sama-sama tahu bahwa kualitas input dilembaga pendidikan tinggi memang mengalami penurunan lumayan jauh dibandingkan beberapa generasi sebelumnya. Dan riilnya, memang itulah yang saya lihat dan alami pada saat saya melakukan kekaryaan dengan mahasiswa, terutama mahasiswa baru.

Problema diatas menarik. Input pendidikan tinggi adalah output dari pendidikan menengah, dan input pendidikan menengah adalah output dari pendidikan dasar. Secara gampang saja bisa ditarik kesimpulan, berarti produk pendidikan dasar dan menengah negeri ini sedang mengalami penurunan kualitas.

Saya mencoba untuk melihat dari hal kecil. Istri saya adalah seorang guru SMP. Guru mata pelajaran seni dan budaya. Mencoba mengkaitkan judul mata pelajaran yang menjadi tugas dan tanggung jawab profesi istri saya tercinta. Sebagai guru yang pada akhirnya terjebak pada pusaran harus dan wajib melaksanakan kegiatan mengajar yang harus sesuai dengan pedoman dan aturan, pedoman dan aturan yang sudah digariskan secara mati oleh perumusnya di jajaran puncak pimpinan negara jauh di atas sana.

Mata pelajaran Seni dan Budaya.
Saya agak "geli "dengan judul mata pelajaran ini. Sering kali saya bertanya kepada guru-guru pengajar mata pelajaran ini, termasuk bertanya kepada istri tercinta, apa saja yang diajarkan pada pelajaran ini. Jawabnya sama, seni musik, seni tari, seni rupa, seni drama. Bisa diajarkan semuanya, bisa hanya sebagian saja. Semua itu ada dalam wilayah seni/kesenian. Dan masih dibebani mengajarkan seni yang sudah berkembang pada wilayah dimana sekolah itu berada. Artinya bentuk-bentuk kesenian yang ada pada sekitar sekolah harus diajarkan kepada murid.

Bungkusnya adalah pengenalan seni lokal kepada murid. Bukan proses yang salah, karena tahapan awal untuk bisa adalah harus kenal dulu. Kemasan pembelajaran seni lokal adalah mempertahankan seni tradisi. Mindset siswa dibentuk untuk mempertahankan, alih-alih membentengi arus seni dan tradisi dari luar. Entah pengertian luar ini hanya pada luar negeri atau luar wilayah. Mindset siswa bahkan sering kali dikonstruksi untuk dikotomis. Milik sendiri benar, yang dari luar salah. Adakah yang bisa menolak fakta ini?

Hal di atas yang saya dapatkan datanya tentang pembelajaran seni. Kerangka kreasi masih terganjal pada pola-pola bahwa yang muda harus mewarisi yang dilakukan yang tua. Sangat sering yang muda disalahkan pada saat yang muda tidak mampu melakukan apa yang sudah dilakukan oleh yang tua-tua. Pembelajaran seni jauh dari upaya pembiasaan pembebasan kreatifitas supaya peserta didik menghasilkan karya-karya baru yang benar-benar berakar dari proses kreatif.
Adakah yang bisa menolak bahwa ada fakta ini?

Lalu....
Bagaimana dengan pembelajaran budaya?
Sampai saat ini saya belum bisa bertemu dengan satu orangpun guru yang bisa menjelaskan tentang apa sesungguhnya isi dan muatan materi ajar budaya ini. Terutama setelah diskusi masuk pada wilayah pengertian seni dan pengertian budaya, dalam bahasa Inggris ada art dan culture. 100% ini bukan kesalahan guru mata pelajaran seni dan budaya. Design kurikulum secara nasional sudah menggariskan demikian. Satuan terkecil sistem pendidikan hanya pelaksana, di dalam satuan terkecil ini profesi guru mata pelajaran, yang tugas-tugasnya juga jelas ada batasannya.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah sebenarnya pengertian dan dasar teori tentang seni dan budaya yang dipakai oleh pembuat kurikulum pendidikan dasar dan menengah di tingkat tertinggi, sehingga seakan bahwa seni dan budaya diletakkan pada kesejajaran. Atau bahkan pengertian budaya menjadi sangat dipersempit pada aspek seni saja.

Kalau pendidikan adalah sebuah alat konstruksi utama generasi, tidakkah bisa dikatakan, bahwa pendidikan formal yang diselenggarakan pemerintahan inilah yang melakukan degradasi kualitas generasi, dimulai dari hal kecil, sebuah pengertian istilah seni dan istilah budaya. Sebuah kesengajaan atau tidak? Toh faktanya tidak ada "protes" aktual terutama dari lembaga pendidikan tinggi, sebagai lembaga yang mestinya bertanggung jawab terhadap klaimnya sebagai pendidik agen perubahan.