Selasa, 07 Februari 2017

MUSIKALISASI PUISI (upaya dari sastrawan tak percaya diri?)

Trend musikalisasi puisi terjadi pada sekitar 10 tahunan terakhir. Kegiatan ini sempat "booming" mulai dari bentuk-bentuk lomba untuk anak-anak/pelajar, sampai bentuk launching karya oleh para penulis puisi itu sendiri.

Interpretasi sederhana kata musikalisasi puisi adalah "upaya memusikkan puisi". Puisi sebagai karya sastra diubah sedemikian rupa sehingga yang hadir adalah bentuk atau sajian musik, yang mestinya leburlah bentuk awalnya sebagai karya verbal, dan lahir utuh dalam bentuk baru sebagai karya musik.

Demikiankah musikalisasi puisi terjadi? Mungkin iya atau bahkan tidak sama sekali. Di negeri ini, dalam sejarah perkembangam industri musik, sudah banyak dihasilkan lagu dengan syair diambil dari karya puisi. Sebutlah nama Ebiet G. Ade, sebutlah kelompok band Godbless, Bimbo. Nama-nama yang sangat terkenal pada masanya, bahkan masih bergaung sampai sekarang, karya-karya lagu mereka selalu mengambil syair dari karya puisi, baik yang mereka susun sendiri, maupun karya puisi yang dibuat oleh orang lain.

Apakah mereka menyebutnya sebagai musikalisasi puisi? Jawabnya adalah TIDAK. Belum pernah ada statemen yang terekam bahwa mereka menyebut karya musiknya sebagai musikalisasi puisi. Mumgkin, mereka sadar benar, bahwa mereka hanya menyusun lagu dari karya puisi.

Nah rupanya disinilah, generasi berikutnya, yang sepertinya justru diawali oleh para pembuat puisi itu sendiri, bahwa apa yang mereka lakukan dengan memberi melodi pada syair puisinya, memberikan sentuhan instrumentasi untuk mengiringi (seringkali diberi alasan umtuk memperkuat suasana) syair yang sudah melodik itu dengan istilah musikalisasi.

Ada hal penting yang para pelaku musikalisasi puisi ini lupakan adalah: bahwa memberi nada pada syair puisi sebenarnya hanya pada tahapan membuat melodi. Melodi adalah deret frekuensi bunyi yang dibunyikan secara bergantian dengan berbagai variasi durasi. Mungkin hal yang dilupakan oleh pelaku pembacaan puisi adalah, bahwa pada saat mereka memberikan intonasi dengan jelas dari rangkaian suku kata, kata, serta kalimat, sebenarnya mereka sudah membuat melodi.

Dalam strukturasi lagu, melodi adalah salah satu unsur pembentuk. Unsur pembentuk lagu adalah; melodi, harmoni, dan ritme. Melodi adalah unsur tunggal, selalu "berbentuk" horisontal. Unsur yang secara otomatis dibawa melodi adalah tempo, tempo inilah yang menginfluen ritme. Harmoni muncul kapan dan dimana? Harmoni dalam konstruksi musik adalah bilamana dua frekuensi yang berbeda, atau frekuensi yang sama dari timbre yang berbeda muncul/dibunyikan secara bersamaan. Dua melodi yang dibunyikan bersama akan memunculkan harmoni.

Musikalisasi Puisi (Indonesia)
Beberapa syair puisi, ada yang sangat memiliki kekuatan untuk disampaikan secara auditori, disamping tidak sedikit puisi yang justru kekuatannya pada saat "dibaca dalam hati". Upaya menghadirkan puisi secara auditori dengan menjadikannya sebagai syair lagu yang sudah terjadi ratusan tahun. Dalam sejarah perkembangan musik, tidak pernah dilihat sebagai upaya yang dinamakan musikalisasi. Sinergi ini sudah terjadi dengan indahnya, seiring perkembangan musik yang dicatat menjadi sejarah. Bahkan mendasarkan komposisi opera pada karya novel juga tidak pernah disebut sebagai musikalisasi novel.

Apalagi kalau ternyata upaya yang disebut musikalisasi puisi itu hanya terbatas memasukkan syair puisi pada melodi, dan dengan menambahkan harmoni tambahan untuk "mengiringi" melodi, ini hanya upaya menyusun lagu. Tidak mewakili keseluruhan dari pengertian musik.
Dan yang telah terjadi adalah, aspek musik yang masuk dalam musikalisasi puisi ini sesungguhnya sangat jauh dari sentuhan musikal. Sangat bisa dipahami, karena kebanyakan musikalisasi puisi dilakukan oleh kalangan puisi, bukan kalangan musisi.

Hal di atas bia jadi indikasi, bahwa pada periode gencarnya gerakan musikalisasi puisi, sedang terjadi "tidak ada sinergi antara musisi dan sastrawan puisi". Atau memang, periode itu adalah periode "ngabehi". Ngabehi dari kata kabeh. Dari bahasa Jawa yang artinya "semua". Ngabehi bisa diartikan me-semua-i. Suatu sikap dan perilaku seakan-akan seseorang mampu melakukan semua hal.

Apakah benar demikian?
Hanya pelaku dan Tuhan yang tahu.....

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda